Makasih buat: Tuhan | Tanah Borneo | Kota Malang | Tanah Sintang |Bumi Puyang Gana | Kampus Tercinta | Anggi & Laras | Para Pembaca

jasa pembuatan blog. per blog kami memberikan harga spesial hanya Rp.250.000 Hub kami di HP 0813 4933 1313

Miki Hermanto. Powered by Blogger.
Widget by Katakan-Hey
Widget by Katakan-Hey
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
JANGAN LUPA MENGISI JAWAB POLLING YANG KAMI SEDIAKAN DI SAMPING KIRI BLOG.. INI TERIMA KASIH
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

perjalanan ke rumah betang

Tuesday, 25 November 2014

hari minggu kemarin tanggal 24 november 2014 saya bersama mengantar tamu dari belanda dan india untuk melihat-lihat kehidupan masyarakat dayak di rumah betang (long house) rumah betang yang kami tuju adalah rumah betang di ensai panjang. tepatnya di desa baning panjang kecamatan kelam, kabupaten sintang. rumah betang disana benar-benar masih alami sekali. penghuni rumah betang masih memegang teguh semangat gotong royong, dan masih menjaga warisan nenek moyang mereka. salah satu yang menjadi andalah mereka adalah membuat kerajinan menenun. menurut cari penduduk disana hampir setiap bulan bahkan hampir setiap minggu ada turis asing datang kesana. ada yang sekedar berkunjung seperti kami ada juga yang datang untuk melakukan penelitian, pada saat kami kesana kebetulan ada salah satu mahasiswi asal francis yang sedang berada disana untuk melakukan penelitian. menurut informasinya sang mahasiswi tersebut akan berada disana selama 3 bulan, dan menurut rencana pada tanggal 30 november 2014 ini akan ada kunjungan dari pihak malaysia kesana diperkirakan akan ada sekita 50 orang yang akan kesana. rumah betang di ensait panjang tersebut sangat menarik perhatian dari turis asing untuk berkunjung namun ironisnya akses jalan kesana tidak lah mudah. jalan kesana sangat tidak terurus. lobang besar ada di sepanjang jalan menuju kesana. belum lagi batu besar-besar yang siap merusak kendaraan anda. menurut pengakuan masyarakat setempat janji pemerintah sudah sejak dulu akan memperbaik akses jalan  kesana, namun sampai saat ini belum ada sama sekali realisasi. janjinya hanya besok dan besok. padahal wisata rumah betang ini sangat menjanjikan dan mampu untuk membawa nama kabupaten sintang di mata dunia. karna beberapa tahun lalu pernah ada kunjungan dari 128 negara kesana. lalu dimana rasa malu pemerintah kita?


CINA DALAM DAYAK

Thursday, 10 November 2011

Oleh: Yohanes Supriyadi

Pengantar
Orang Dayak memanggilnya “sobat” (sahabat), mereka memanggil Orang Dayak “darat”, kadang-kadang dipanggilnya juga dengan sebutan laci. Laci artinya anak keturunan. La = anak, Ci = orang atau keturunan. Anak hasil perkawinan Dayak dengan Cina disebut Pantokng dan sebaliknya anak hasil perkawinan Cina dengan Dayak dikenal sebagai Pantongla.

Tulisan ini hanya memotret singkat dalam konteks sejarah, bagaimana relasi Dayak dan Cina yang hampir sempurna, khususnya kenapa Orang Dayak memanggil Orang Cina “sobat”, sebuah tata nilai budaya yang sedemikian sempurna, sebagai perwujudan dari nilai-nilai hidup yang dijaga dan dikembangkan selama ini.

Cina Dalam Dayak; Potret Inkulturasinya
Kata La Ci seringkali diplesetkan orang luar untuk mempengaruhi relasi Dayak dengan Cina. Menurut Acui (2005), merujuk pada kata La Ci, mungkin mereka mengakui secara “implisit” bahwa Dayak adalah keturunan dari kelompok imigran yang telah datang masa 3000-1500 Sebelum Masehi. Panggilan “sobat” Orang Dayak kepada Orang Cina diatas bukanlah tanpa alas an. Dalam tradisi yang sangat sakral, misalnya dalam mitologi religiousnya, seorang tokoh Cina merupakan salah satu tokoh penting yang sangat dihormati bahkan diakui sebagai leluhur Orang Dayak. Disebutkan, ada 5 orang tokoh, yang mencipta adat: Ne Unte’ Pamuka’ Kalimantatn, Ne Bancina ka Tanyukng Bunga, Ne Sali ka Sabakal, Ne Onton ka Babao, dan Ne Sarukng ka Sampuro. Menurut pengakuan Singa Ajan (94 tahun, seorang Singa/Timanggong, tinggal di kampong Rees-Menjalin-Landak), Ne Bancina adalah leluhur Orang Cina, beliau tinggal di sebuah tanjung, yang bernama tanjung bunga, daerah pasir panjang-Singkawang sekarang ini.

Sebagaimana sejarahnya, Dayak adalah merupakan keturunan Bangsa Weddoid dan Negrito (Coomans,1987). Orang Negrito dan Weddoid telah ada di Kalimantan sejak tahun 8.000 SM. Mereka tinggal didalam gua dan mata pencaharian mereka berburu binatang. Kelompok ini menggunakan batu sebagai alat berburu dan meramu. Warisan Weddoide yang masih bertahan hingga hari ini dan melekat pada sebagian kecil Orang Dayak adalah menjadikan hewan anjing sebagai hewan sembelih dan kurban pada jubata (Tuhan). Ini terjadi karena pada waktu itu banyak anjing hutan yang liar yang hidup di daerah ini. Binatang ini menjadi hewan buruan yang mudah bagi kaum Weddoide yang masih memiliki peralatan dari batu. Namun, kelompok ini sekarang telah lenyap sama sekali, setelah kedatangan imigran baru yang dikenal sebagai Bangsa Proto Melayu atau Melayu Tua (Wojowasito, 1957). Proto Melayu merupakan imigran kedua yang datang sekitar tahun 3000-1500 SM. Menurut Asmah Haji Omar http://www.amazon.co.uk), peradaban kelompok ini lebih baik dari Negrito, mereka telah pandai membuat alat bercocok tanam, membuat barang pecah belah dan alat-alat perhiasan. Gorys Keraf (1984) mengatakan bahwa, kelompok imigran ini juga telah mengenal logam, sehingga alat perburuan dan pertanian sudah menggunakan besi.

Emas merupakan penyebab terjadinya salah satu migrasi utama Orang Cina ke Kalbar pada akhir abad ke-18 (Jackson,1970). Dari catatan sejarah, tahun 1745, 20 orang Cina didatangkan dari Brunei oleh Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah untuk bekerja pada pertambangan emas, utamanya di Mandor (wilayah Mempawah) dan di Monterado (Sambas). Hasil emas mencapai puncaknya antara tahun 1790 dan 1820. Pada tahun 1810, produksi emas dari Kalbar melebihi 350.000 troy ons, dengan nilai lebih dari 3,7 juta dollar Spanyol (Raffles, 1817). Keberhasilan pertambangan emas ini, menyebabkan Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah terus mendatangkan Orang Cina, hingga pada tahun 1770 orang Cina sudah mencapai 20.000 orang. Menghindari perkelahian sesama perantauan setali sedarah, Lo Fong Fak, pimpinan sebuah kongsi di Mandor menyatukan 14 kongsi yang tersebar dan mendirikan sebuah pemerintahan “republic” Lan Fang pada tahun 1777. Republic ini berkuasa selama 108 tahun, 1777 - 1884. Pada masa Presiden Lan Fang ke-10, Presiden Liu Konsin yang berkuasa sejak 1845-1848, Republik ini pernah melakukan pertempuran dengan Orang Dayak didaerah Mandor, Lamoanak, Lumut, dan sekitarnya, hasilnya Orang Dayak kalah dan sebagian kecil memilih bermigrasi kehilir Sungai Mandor, hingga akhirnya membentuk pemukiman diwilayah Kesultanan Pontianak. Mereka inilah yang menjadi leluhur Orang Dayak di Sei Ambawang. Perang ini dikenal sebagai “Perang Lamoanak”.

Sebagaimana bangsa lainnya, Orang Dayak sudah mengenal tradisi pertanian sebagai mata pencaharian. Dalam mitologinya, sebelum padi dikenal, mereka meramu dan mengumpulkan sagu liar (eugeissona utilis). Sagu liar ini banyak tumbuh ditanah-tanah lembab, dikenal dengan nama rawa-rawa. Mereka mengambil pati dari sagu ini, lalu memelihara tumbuhan sagu, seperti sekarang dilakukan oleh orang Ambawang, Kubu Raya. Untuk mencampur sagu ini, mereka juga mengumpulkan dan memetik “kulat karakng” (sejenis jamur) sebagai makanan pokok kedua.

Karena hasil emas mulai berkurang pada tahun 1820-an dan terus menurun dalam dua dasawarsa berikutnya semakin banyak orang Cina diwilayah Republik Lan Fang yang beralih keperdagangan dan pertanian dengan menanam padi, sayuran dan beternak babi. Hal ini sesuai dengan penelitian Jessup, bahwa tradisi pertanian, khususnya tanaman padi Orang Dayak setidaknya telah dilakukan sejak tahun 1820-an (Jessup, 1981) . Tanaman padi mungkin dibawa oleh imigran Cina ini (Bellwodd;1985). Bellwodd mencatat, padi liar dan padi-padian lain telah dibudidayakan dipunggung Daerah Aliran Sungai Yangtze yaitu dilahan-lahan basah musiman disebelah selatan Propinsi Kwang Tung, Fuk Chian, Yun Nan dan Kwang Sie. Hal ini cocok dengan sebuah tulisan (Asali;2005;3), yang menjelaskan bahwa imigran Cina yang datang ke Kalbar umumnya dari bagian selatan China, khususnya dari Propinsi Kwang Tung, Fuk Chian, Yun Nan, dan Kwang Sie. Orang Dayak kemudian berubah dari masyarakat pengumpul sagu liar menjadi masyarakat yang aktiv menanam padi (Ave, J.B., King, V.T, 1986) dan menyelenggarakan siklus pertanian yang sarat ritual (Atok;2003;19). Padi pertama yang ditanam dikenal dengan nama padi antamu’. Oleh Petani Dayak, hingga sekarang jenis padi ini selalu ditanam, istilahnya “Ngidupatn Banih” (melestarikan benih). Jika merunut sejarah tanaman padi ini, tidaklah mengherankan kalau dalam prosesi perladangan Dayak, dalam siklus tertentu dan keadaan tertentu pula, nyaris mengikuti kalender Cina. Penanggalan Cina amat berpengaruh dalam tradisi perladangan Dayak, hingga hari ini.

Pola pertanian dilahan basah, diyakini juga sebagai warisan Orang Cina di Kalimantan Barat. orang Dayak mengenalnya dengan istilah Papuk/ Gente’/Bancah (sawah). Budaya pertanian ini dibawa kelompok migrasi terakhir dari Propinsi Yun Nan terjadi tahun 1921-1929, ketika di Tiongkok (Cina) terjadi perang saudara. Saat ini, diberbagai tempat kita masih menjumpai nama sawah berasal dari kata Cina. Di Kampung Nangka, 102 Km dari Pontianak, kita dengan mudah mendapatkan nama tempat berasal dari Cina; Ju Tet, Kubita, Pahui, dll. Ini sekaligus bukti, bahwa pencetakan sawah awalnya diperkenalkan mereka. Latar belakang kelompok imigran baru ini memang kebanyakan petani Orang Hakka.

Selain itu, sejak tahun 1880, orang Cina juga mulai membuka perkebunan lada, gambir dan setelah tahun 1910 memulai perkebunan karet (Hevea brasiliensis;Euphorbiaceae) (lihat Dove,R.Michael;1988) . Acong (70 tahun), warga Sei Nyirih Selakau-Sambas, menceritakan pada saya bahwa pernah ada sebuah perusahaan besar “KAHIN”, milik Tjiap Sin. Perusahaan ini berdagang gambir, cengkeh, kopra dan lada, dijualnya ke Singapura. Ia memiliki kapal layar besar. Untuk ke Singapura, mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 3 hari dari Selakau. Seiring menipisnya hasil Gambir, Cengkeh, Lada dan Kopra, pada tahun 1958, perusahaan ini tutup.

Pembauran Orang Dayak dengan Orang Cina yang terjadi sejak berabad-abad silam, menurunkan perilaku kebudayaan unik, khususnya peralatan adat istiadat dan hokum adat dalam budaya Dayak. Hari ini, masih dapat kita lihat dari alat-alat peraga adat (dan hukum adat) yang menggunakan keramik-keramik Cina. Pengaruh ini mungkin hasil dari perdagangan dan hubungan diplomasi mereka dengan bangsa Cina yang sempat tercatat dalam sejarah dinasti Cina dari abad ke-7 sampai abad ke-16. Pedagang Cina menukar keramik, guci anggur dan uang logam dengan hasil-hasil hutan yang dikumpulkan Orang Dayak seperti kayu gaharu, gading burung rangok (enggang), serta sarang burung walet. Pedagang dari Siam juga membawa guci-guci yang terbuat dari batu yang masih banyak digunaan Orang Dayak untuk mas kawin dan untuk upacara penguburan (Fridolin Ukur;1992).

Uniknya, pada peristiwa “demonstrasi” yang berlangsung sekitar 2 bulan, dari Oktober hingga November 1967, satu titik waktu dimana rezim Orde Lama beralih ke Orde Baru, Orang Dayak menyebarkan ”Mangkok Merah” sebagai media komunikasinya, untuk ”penghukuman sosial” terhadap Cina dipedalaman yang ditengarai berafiliasi dengan gerombolan PGRS/Paraku yang berideologi komunis. Ratusan ribu Orang Cina harus rela meninggalkan kampung-kampung dipedalaman, dimana sejak ratusan tahun mereka telah berinteraksi positif dengan Orang Dayak.

Tidak cuma itu, istilah keseharian dalam bahasa Cina dengan mudah kita temui dikalangan Orang Dayak. Di Kampung Rees, misalnya hampir semua proses pesta (baik pesta padi, perkawinan, sunatan, dll) istilah-istilah ini muncul. Dari menentukan waktu pesta (penanggalan Cina; ari segol, dll), nama tempat (tapsong, teosong,dll), nama alat (ten, teokang, dll), jenis masakan (saunyuk, tunyuk, dll) hingga prosesi makan (concok). Bahkan,alat-alat pesta maupun alat peraga adat (dan hokum adat) juga menggunakan prototive yang berasal dari Cina, misalnya; tempayan (tapayatn jampa, siam, manyanyi, batu, dll), mangkuk (mangkok), piring (pingatn), sendok (teokang), nampan (pahar), dll.

Dalam tradisi minuman, Cina dalam Dayak juga dapat kita lihat dari tradisi minuman keras, khususnya jenis arak. Sebelumnya Orang Dayak hanya mengenal tuak, yang terbuat dari saripati tanaman aren. Di Cina, minum arak sudah menjadi budaya yang tak terpisahkan. Oleh karena itu kita mengenal dewa mabuk dalam cerita-cerita kungfu. Arak, selain untuk meramu obat tradisional Cina, yang dikenal sebagai “tajok/pujok” oleh Orang Dayak juga sebagai bahan penyedap. Kini, arak telah menjadi bagian sehari-hari bagi kehidupan Orang Dayak.

Tak cuma itu, Cina dalam Dayak juga dapat dilihat dari persenjataan, khususnya pembuatan senjata api “senjata lantak” sebagai alat berburu dari Orang Cina. Bubuk mesiu ditemukan oleh ahli ahli kimia Cina pada abad ke-9 ketika sedang mencoba membuat ramuan kehidupan abadi. Bubuk mesiu ini dibawa tentara Cina yang menetap di Kalimantan setelah tujuan mereka menghukum Raja Kertanegara. Banyak bukti bahwa penggunaannya dengan belerang banyak dipakai sebagai obat (Wayne Cocroft; 2000). Sebelum mengenal senjata lantak dan mesiu, senjata untuk berburu dikalangan Orang Dayak masih berupa tombak dan sumpit. Tidak cuma itu, “judi” juga diperkenalkan kelompok etnik ini kepada Orang Dayak. Beragam jenis judi; Liong Fu, Te Fo, Kolok-Kolok, Sung Fu, dan lain-lain sangat digemari Orang Dayak hingga hari ini. Disetiap pesta, keramaian, warung/toko, dengan mudah ita menjumpai jenis-jenis permainan judi ini.

Dan bahkan, kegigihan Orang Cina dalam politik juga menjadi inspirasi bagi Orang Dayak. Sejak tahun 1941, mereka mulai mengembangkan diri dalam perjuangan politik. Sebagaimana diketahui, umumya kelompok Cina di Kalimantan Barat berasal dari Orang Hakka yang sangat terkenal keuletannya.Orang Hakka lebih independent-minded (berpikiran bebas), lebih mudah melepaskan diri dari tradisi dan menangkap idea baru untuk hidup. Tidak heran, orang Hakka adalah termasuk orang tionghoa yang cepat mengadopsi ide-ide Barat dibanding dengan yang lain dan mengkombinasikannya dengan budaya Hakka. Dan tekanan kepahitan hidup yang mereka rasakan menjadikan mereka lebih mudah menjadi kaum revolusioner, lebih progresif, dan lebih berani maju untuk menuntut pembaharuan, dan banyak pelopor-pelopor pembaharuan Cina modern berasal dari Hakka. Fleksibilitas orang Hakka dalam menyerap ide-ide baru, tidak bersikeras untuk mempertahankan tradisi lama yang menghambat, menjadikan Hakka sebagai etnis yang unik dalam sejarah China modern. Bukan kebetulan, kalau pemberontakan terbesar di China pada abad ke-19 yang melibatkan puluhan juta manusia, dan termasuk pemberontakan paling berdarah dalam sejarah kemanusiaan didunia, dimotori oleh orang Hakka. Literasi sejarah inilah yang kemudian disambung Orang Hakka di Kalimantan Barat dengan mendirikan sebuah Negara “republic” Lan Fang tahun 1777-1884. Selama Kolonial Belanda, republic ini pernah 2 kali berperang dengan Belanda, yakni tahun 1854-1856 dan tahun 1914-1916. Perang itu dinamakan “Perang Kenceng” oleh masyarakat Kalbar.

Sikap revolusioner Orang Cina juga muncul ketika Jepang menduduki Pontianak tahun 1941. Sekelompok Cina mendirikan organisasi bawah tanah dan menyiapkan diri untuk perang terbuka, namun niat ini menjadi hilang ketika hadir ”tragedi mandor”, sebuah pembunuhan massal oleh Jepang di Mandor, bekas ibukota Republik Lan Fang. Orang Cina kehilangan banyak sumberdaya manusia yang berkualitas dan mampu secara ekonomi. Dan karena sikap yang cenderung bersahabat dengan Orang Dayak, melalui Partai Persatuan Daya (PD), membuat sebagian elit Orang Cina yang lolos dari ”penyungkupan” berhasil mengkonsolidasi kekuatan politiknya, dan pada pemilu 1955 dan pemilu 1958, kelompok ini menang. Hal ini kemudian mengantarkan JC.Oevaang Oeray, tokoh Dayak asal Hulu Kapuas menjadi Gubernur Kalimantan Barat dan berhasil menempatkan dirinya sebagai refresentasi kelompok etnik yang berkuasa selama delapan (8) tahun. Dipergantian rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru, hubungan Cina-Dayak terganggu dengan munculnya peristiwa “demonstrasi”, persahabatan sirna dan akibatnya puluhan ribu orang Cina harus rela “keluar” dari teritori Dayak dan mengkonsentrasikan diri di kawasan pesisir, yang selama ini menjadi teritori “Melayu”. Empat puluh satu tahun (41 tahun) terabaikan, dipenghujung tahun 2007, konsolidasi politik Orang Cina dan Orang Dayak menemukan klimaksnya, mereka kembali menempatkan dirinya sebagai refresentasi kelompok etnik yang berkuasa di Kalimantan Barat.

Penutup
Jika merujuk pada fakta budaya pada kelompok etnik Dayak Mampawah diatas, bagi saya, kemungkinan besar budaya Dayak sekarang ini merupakan hasil inkulturasi budaya Cina, walaupun kenyataannya menjadi budaya yang diakui sebagai tradisi Dayak. Mungkin saja, contoh diatas hanyalah contoh kecil dari inkulturasi Cina dalam Dayak. Saya memahami bahwa kebudayaan itu selalu bersifat dinamis, namun fakta bahwa tatanan social dan tradisi Dayak telah berinkulturasi secara tajam dan dalam dengan budaya Cina. Cina benar-benar telah masuk dalam diri Dayak, diberbagai bidang kehidupan, hingga hari ini.
________________
Tulisan ini disampaikan pada Kongres Kebudayaan Kalimantan Barat, Pontianak, 25-27 Agustus 2008. Penulis adalah Ketua Palma Institute, mahasiswa Magister Ilmu Sosial Universitas Tanjungpura Pontianak.



MENCARI DAYAK DI MASA SILAM DAN MASA DEPAN

“Sebuah catatan atas penyelenggaraan Musyawarah Nasional II Dewan Adat Dayak
Se-Kalimantan Di Pontianak, 2-5 September 2006”.

Yohanes Supriyadi
Anggota Presidium Pergerakan Cendekiawan Dayak (PCD) Kalbar

Pengantar
Tulisan ini hendak mengajak kawan-kawan aktivis Dayak Kalimantan yang akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional II Dewan Adat Dayak Se-Kalimantan, yang akan diselenggarakan pada tanggal 2-5 September 2006 nanti, untuk berpikir dan memformulasi gerakan politik Dayak dimasa depan dalam kerangka NKRI. Sengaja tulisan saya beri judul: ”Mencari Dayak Di Masa Silam dan Masa Depan”, dengan harapan menjadi satu bahan diskusi secara komprehensif para peserta Munas II DAD, agar kegiatan Munas ini lebih bermakna, dan tidak sekedar simbolitas, sebagaimana kegiatan-kegiatan terdahulu. Masyarakat Dayak se-Kalimantan tentunya, dengan kegiatan yang maha besar diawal millenium baru ini sangat berharap adanya suatu formulasi yang tepat, cepat dan strategis untuk kemajuan Bangsa Dayak di Kalimantan, sehingga dapat sejajar dengan suku bangsa lainnya di Indonesia.

MELIHAT Dayak Masa Silam
Umum diketahui bahwa pada masa awal Dayak bolehlah dikatakan sebagai penduduk asli dan merupakan mayoritas di Kalimantan. Penduduknya menyebar mulai dari pesisir hingga bagian pedalaman. Mereka yang tinggal di pesisir mengembangkan beberapa kerajaan dan menganut Hindu, bekerja sebagai pedagang, nelayan, dan petani. Sedangkan sebagian lainnya yang tinggal di pedalaman menganut agama asli, bekerja sebagai peladang berpindah dan pengumpul makanan. Kontak dengan pedagang asing dan kedatangan migran, mendorong penduduk yang tinggal di pesisir untuk beralih agama menjadi Islam sedemikian sehingga mengembangkan kebudayaannya sendiri yang lebih berkembang dengan berpusat di kesultanan. Awalnya jumlah penduduk kelompok ini sangat sedikit, namun sering dengan semakin banyaknya Dayak yang berkonversi menjadi Islam disamping migrasi orang Islam dari daerah lain yang melakukan perkawinan silang, jumlah mereka menjadi bertambah. Mereka inilah yang kemudian menamakan dirinya sebagai Melayu (Dr. Iqbal Djajadi,2004).

Dalam bukunya ”Kalimantan Membangun”, Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional RI satu-satunya dari bangsa Dayak Kalimantan mengungkapkan bahwa bangsa Dayak di Kalimantan juga memainkan peran yang sangat penting dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial. Riwut, yang mantan Gubernur pertama Kalimantan Tengah ini mencatat bahwa pergerakan nasional modern dari pulau Kalimantan diawali dengan kemunculan Serikat Dayak (1919), Pakat Dayak (1923) serta Dayak In Action (1945) yang secara signifikan sudah sanggup mengemban keinginan merdeka dalam programnya dan mencoba mewujudkannya bersama rakyat. Pada tahun 1932, Serikat Dayak diubah menjadi Pakat Dayak, dengan konsentrasi pada kegiatan sosial, ekonomi dan pendidikan. Tujuannya adalah untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Dayak melalui kegiatan social dan pendidikan seperti mendirikan sekolah-sekolah dan usaha semacam koperasi.

Namun, gerakan Dayak untuk bebas dari penindasan baik yang dilakukan kerajaan feodal maupun penjajah Belanda semakin menguat dari tahun ketahun diseluruh Kalimantan. Pada tahun 1941 misalnya, sejumlah tokoh Dayak dalam suatu retret guru agama katolik di Nyarumkop Kalimantan Barat bersepakat untuk meningkatkan dan memperjuangkan nasib orang Dayak melalui perjuangan politik. Kesepakatan itu merupakan salah satu inisiatif JC Oevaang Oeray, siswa seminari yang menulis surat kepada peserta retret. Oleh AF Korak, JR Giling dan MT Djaman, berhasil dicetuskan kebulatan tekad untuk berjuang secara politik. 4 tahun setelah kesepakatan itu, tepatnya pada tanggal 30 Oktober 1945, FC Palaunsoeka, guru sekolah rakyat di Puttusibau dan kawan-kawannya mendirikan Dayak In Action (DIA) dengan moderator seorang pastor Jawa bernama Adi Karjana SJ. Karena perkembangan situasi politik saat itu, pada tanggal 1 Nopember 1945, DIA diubah menjadi Partai Persatuan Daya (PD) dengan ketua umum pertamanya FC Palaoensoeka. Disetiap kampung dibentuk Komisariat yang sejajar dengan Dewan Pimpinan Cabang. Momentum gerakan politik melalui PD kemudian mendapat tempat dengan diubahnya karesidenan Kalbar menjadi Daerah Istimewa Kalbar pada tanggal 12 Mei 1947.

Sejarah mencatat, perjuangan politik orang Dayak ternyata tidak hanya berjuang secara diplomatic, tetapi ada juga yang berjuang senjata. Pada tahun 1943 diproklamasikan sebuah Negara Dayak bernama Negara Madjang Desa. Pang Suma menjabat sebagai perdana menteri, yang dibantu oleh Pang Linggan, dan kawan-kawannya. Gerakan Pang Suma menyihir para aktivis muda Dayak untuk bergabung dinegara yang baru terbentuk ini, termasuk sisa-sisa kaum progresif yang masih hidup ketika beberapa kali pecah pertempuran melawan pemerintah Hindia Belanda. Momentum perlawanan Pang Suma diawali dengan pemukulan seorang tenaga kerja Dayak oleh pengawas Jepang, satu diantara sekitar 130 pekerja pada sebuah perusahaan kayu Jepang. Kejadian ini kemudian memulai sebuah rangkaian perlawanan yang mencapai puncak dalam sebuah serangan balasan Dayak yang dikenal dengan Perang Majang Desa, dari April hingga Agustus 1944 di daerah Tayan-Meliau-Batang Tarang (Kab. Sanggau). Sekitar 600 pejuang kemerdekaan dibunuh oleh Jepang, termasuk Pang Suma. Di Sidas, Mane Pak Kasih, asal Kampung Pancur Sengah Temila bertempur dengan tentara NICA di Jembatan Sidas. Bersama rombongannya, Mane Pak Kasih gugur, membela kemerdekaan yang sudah diraih. Peristiwa ini dikenal dengan Perang Sidas. Mengapa pejuang-pejuang itu gagal ? Salah satu sebab utama kegagalan tersebut adalah ketidakmampuan Dayak radikal dalam mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan potensial rakyat Dayak secara umum, sehingga mereka tak memiliki kekuatan yang cukup dalam menghadapi serangan aparat militer Jepang.

Sebagaimana dicatat para penulis Eropah, pada masa sebelum dan selama masa kolonial, Kalbar merupakan daerah yang terdiri dari banyak kesultanan. Kendati saling bersaing, semua sultan adalah Melayu dan memperoleh dukungan dari pemerintah Belanda & Jepang. Dayak adalah rakyat yang menjadi subyek kekuasaan Melayu. Cina merupakan kelompok etnik yang walaupun juga berada dalam kekuasaan Melayu, namun mereka berusaha mengembangkan otonomi tersendiri & relatif eksklusif. Konfigurasi sosial semacam itu terus bertahan hingga beberapa peristiwa penting terjadi di penghujung masa kolonialisme dan masa kemerdekaan. Pemerintah Belanda & misionaris memberikan kesempatan pendidikan yang besar, dan secara sadar atau tidak, ikut membentuk identitas etnik kepada Dayak. Dalam batas tertentu, pemerintah dan misionaris juga membuka kesempatan pendidikan yang besar kepada Cina. Tragedi pembunuhan massal oleh Jepang di Mandor membuat Melayu kehilangan banyak sumberdaya manusia yang berkualitas. Dan karena sikap yang cenderung pro Belanda pada masa awal kemerdekaan, membuat Melayu pada akhirnya kehilangan peluang untuk menguasai birokrasi pemerintahan pada masa Orde Lama. Sejumlah Dayak berhasil memanfaatkan situasi ini, setelah berhasil mengkosolidasi kekuatannya, mereka mendirikan partai politik dan menang dalam pemilu 1955 dan 1958. Hal ini kemudian mengantarkan Dayak untuk menempati posisi sebagai kelompok etnik yang berkuasa. Satu orang menjadi gubernur, dan 4 di antaranya menjadi bupati serta beberapa mengisi jabatan-jabatan prestisius lainnya. Singkatnya, Dayak naik ke kursi kekuasaan, menggantikan kelompok etnik yang dulu mereka anggap sebagai penjajahnya.

Kemerdekaan dan politik luar negeri Indonesia di masa Orde Lama, membuat Cina menjadi lebih berkembang. Mereka bukan hanya menguasai ekonomi, melainkan juga mulai masuk dan berperan dalam bidang sosial-politik.

Tidak lama Dayak menguasai birokrasi pemerintahan. Seiring dengan pergantian rezim dan perubahan politik luar-negeri Indonesia, pemerintah pusat membatasi aktivitas tokoh Dayak dalam politik dan pemerintahan, dan menggantikannya dengan pejabat militer yang berasal dari Jawa. Dayak berusaha mengadakan koptasi, namun gagal.

Peralihan Orde Lama ke Orde Baru merupakan masa yang paling menyakitkan bagi Cina. Mereka bukan hanya kehilangan posisinya secara ekonomi dan politik, melainkan juga harus kehilangan materi dan nyawa. Kelompok etnik yang relatif beruntung adalah Melayu dan Madura. Belajar dari sejarah, secara perlahan Melayu berhasil kembali menguasai birokrasi tingkat menengah ke bawah. Kendati perannya secara politik tidak besar, Madura berhasil memperbaiki posisinya sedemikian sehingga pemerintah, militer, dan parpol terpaksa harus memperhatikan kepentingannya dalam beberapa urusan tertentu. Puncaknya adalah terpilihnya seorang militer Madura menjadi bupati di kabupaten Sanggau.

Orde Baru adalah masa kontemplasi dan konsolidasi bagi Dayak. Dalam masa panjang itu, mereka berusaha semakin menguatkan identitas etnik mereka dengan mengontraskan perbedaan antara Dayak dengan Melayu. Mereka mengidetifikasi dirinya sebagai Kristen, penduduk asli, mayoritas, namun dijajah oleh Melayu yang mereka anggap sebagai Islam, pendatang dan minoritas. Mereka mendirikan berbagai organisasi sosial-politik dan ekonomi yang berusaha memberdayakan kelompok etniknya. Beberapa belas tahun kemudian, pemberdayaan tersebut berhasil mentransformasikan dirinya sebagai suatu gerakan politik.


MENCARI Dayak Masa Depan
Saat ini, kaum feodalisme yang direfresentasikan oleh negara terus menekan Dayak. Intervensi kebijakan ekonomi neoliberal (yaitu,liberalisasi pasar; pemotongan subsidi rakyat; privatisasi asset daerah; liberalisasi impor) yang belakangan semakin intensif melalui berbagai alat-alatnya [Kadin, dsb] ternyata belum dianggap cukup ampuh sebagai solusi bagi krisis umum kapitalisme dewasa ini. Melayu pun memerlukan intervensi politik-ideologis; Dayak harus mendukung serta terlibat aktif dalam barisan perang melawan kemiskinan yang belakangan ini gencar dikampanyekan oleh pemerintah. Kedua tindakan tersebut pada hakekatnya adalah mengamankan Dayak.

Perlawanan Dayak secara umum mengalami peningkatan. Kualitas dan kuantitasnya bisa dibaca mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Meski demikian, kekuatan, daya pukul dan kualitas perlawanan itu sama sekali tidak merata, baik dari segi teritorial maupun sektor tertentu. Meskipun jumlah perlawanan meningkat, namun yang perlu dicatat adalah aksi-aksi Dayak itu mayoritas dilancarkan setelah pemerintah melayu mengeluarkan kebijakan yang strategis dan sangat terasa bagi Dayak. Sehingga, spontanitas memang masih menjadi ciri yang melekat pada perlawanan Dayak, karena sikapnya yang baru pada tahap menanggapi tindakan para pejabat, serta terbatas pada persoalan jabatan politik dan ekonomi, ketimbang merupakan hasil inisiatif dari bangsanya sendiri untuk melawan dan memberontak. Apalagi perlawanan ini belum menemukan satu bentuk dan tujuannya sama sekali, dalam periode transisional apalagi strategis. Sehingga selain spontan, ia juga masih sporadik dan sendiri-sendiri. Perlahan-lahan ciri ini mulai mencair. Meskipun secara umum memang wataknya masih spontanitas yang pasif, namun dari beberapa momentum telah menunjukkan perubahan yang cukup maju dan menimbulkan optimisme. Momentum Pemilihan Kepala Daerah Langsung sejak tahun 2005 (Pilkada) menjadi bukti kebangkitan embrionik bentuk perlawanan Dayak yang lebih terorganisir, lebih berwatak multi sektoral, serta berkarakter aktif dan politis dalam tuntutan dan sikapnya.

Secara keseluruhan perkembangan maju gerakan Dayak relatif belum cukup terintegrasi dengan arus perkembangan perjuangan demokratik. Dari ratusan kali aksi perlawanan massa yang berlangsung sepanjang sepuluh tahun ini, belum cukup berkembang luas yang berada dalam orbit program-program perjuangan demokratik. Mayoritas masih dalam arus perlawanan spontan yang berkembang dari proses alamiah. Perlawanan mahasiswa Dayak, maupun oportunisme program-program yang yang dipasokkan elemen-elemen diluar mahasiswa [kaum ekonomisme dan aliran opurtunisme lainnya]. Kemudahan-kemudahan dari atmosfir radikal perlawanan spontan belum mampu diakumulasikan menjadi energi revolusioner, baik dalam makna program maupun wadah-wadah politik massa.

Perlawanan Dayak yang selama ini terikat tangannya pada tuntutan tanah (dilakukan aktivis lingkungan, aktivis NGO), saat ini sudah mampu meluaskan cakrawala perjuangannya. Sebenarnya, sebagai gejala kesadaran Dayak dari kungkungan tuntutan akan tanah yang menjadi ciri pokok dari partisipasi Dayak dalam penuntasan reformasi total, dan menjadi tipe yang berbeda di kalbar, sudah menunjukan bahwa Dayak mampu bergerak lebih jauh dari ciri revolusi demokratik dalam makna Eropa dan atau Amerika Latin.

Dayak juga bergerak atas landasan hak-hak demokratiknya, menjatuhkan ratusan kepala desa dan bahkan beberapa juga bupati karena gugatan terhadap KKN, serta penentangannya terhadap ekspansi neoliberalisme, dll yang diwujudkan dalam ekspansi perusahaan Kelapa Sawit yang monokultur itu. Saat ini, walaupun perlawanan menuntut hak tanah terus berlangsung, perlawanan Dayak mulai mendapat basis perluasannya yang melibatkan populasi yang lebih luas melalui gerakan credit union (CU). Kepemilikan tanah yang sempit, rendahnya basis teknologi dan manajemen produksinya menyebabkan Dayak menjadi korban senyata-nyatanya dari serangan nafsu serakah kaum kapitalistik yang diboncengi oleh pengusaha-pengusaha perkebunan dan pertambangan. Akumulasinya telah berlangsung sejak krisis ekonomi di pertengahan tahun 1997. Dari hari ke hari kenistaan imperialisme terus menggiring Dayak pada batas kemampuannya untuk bertahan hidup, meniadakan alternative lain kecuali melawan !!.

Belakangan aksi menentang pejabat non Dayak terus membesar, seperti yang ditunjukkan oleh para mahasiswa, dsb. Seperti halnya mahasiswa, arus perlawanan Dayak mayoritas masih bersifat spontan. Bukan berarti tidak ada kemajuan. Beberapa perkembangan bisa menunjukkan arah perlawanan yang makin maju: mulai menyatunya Dayak dari lokal-lokal yang berbeda, bergerak dalam aksi massa dengan isu yang sama dan relatif terorganisir, sehingga terlihat militansi dan daya tahannya cukup lama misalnya. Kurangnya intervensi dari elemen-elemen yang lebih maju di kalangan Dayak menyebabkan proses integrasi dengan gerakan demokratik ini berjalan sangat lambat.

Kandungan terpenting dalam memahami kecenderungan politis di Kalimantan Barat, yakni bagaimana kita memahami aspek keragaman Dayak itu sendiri. Sementara itu, dalam kontek pemahaman Dayak masa depan, terletak pada kemampuan kita mengelola dengan baik potensi-potensi sosial tersebut menjadi semacam modal politik. Sehingga, keragaman subetnik itu, dapat kita jadikan semacam potensi politik, guna memperkuat Dayak.

Harapan dan angan-angan membangun masyarakat Dayak yang bermartabat dan kuat, bagaimanapun juga harus dikuasai sebagai variabel pendukung pembaharuan, bukan justru dijadikan sumber masalah, untuk kemudian dijadikan alasan terjadinya konflik antar Dayak. Pada tahap bahwa keragaman subetnik dan agama yang dianut Dayak dinyatakan sebagai kekayaan atas "model Dayak", menurut hemat penulis akan melahirkan beragam bentuk prasyarat-prasyarat politis yang intinya lebih banyak melakukan beragam akomodasi dan bukan berupa represi politik, seperti pernah dilakukan oleh rezim Orde Baru. Oleh sebab itu, kekuasan negara di tengah-tengah masyarakat Dayak yang serba multi-kultural ini, hendaknya penguasa politik tidak mungkin hanya menyederhanakan masalah melalui praktek politik jargon-jargon seperti: integrasi, kebhinekaan dan bentuk kekuasaan feodal yang hegemonik. Sebaliknya, apabila potensi sosio-kultural itu tidak dikelola dengan baik, besar kemungkinannya akan melahirkan pergesekan-pergesakan politik yang berjung pada ketidak-stabilan politik.

Selama kurun perubahan politik pasca kejatuhan Orde Baru, telah kita saksikan betapa buruknya pengelolaan potensi sosial oleh elit Dayak. Terlebih, apabila kita melihat bangkitnya gerakan kaum muda Dayak akhir-akhir ini, dengan kasat mata, elit politik Dayak terlalu mudah menyederhanakan masalah. Keragaman tuntutan dimaknai hanya sebagai bentuk kerewelan kaum muda serta dianggap mengganggu kedudukan elit politik Dayak. Padahal, suka atau tidak suka, tuntutan perubahan dari beragam kaum muda Dayak di Kalbar, akan terus menerus menjadi sebuah keniscayaan politik yang sulit untuk kita bendung. Keragaman sebagai keniscyaan wacana Persatuan Dayak (PD) hendaknya dijadikan paradigma baru dalam merajut kembali hubungan antarmanusia Dayak yang belakangan selalu hidup dalam suasana penuh konflikstual. Saat ini muncul kesadaran masif bahwa diperlukan kepekaan terhadap kenyataan kemajemukan, pluralitas Dayak, baik dalam subetnik, agama, budaya, sampai dengan orientasi politik.

Tawaran paradigma berupa kesadaran persatuan Dayak, memang, bukanlah hal yang baru. Masalahnya, bagaimana caranya kita dapat memobilisasikan konsep keberagaman tersebut melalui proses pengambilan keputusan politis yang menguntungkan Dayak secara keseluruhan. Pasalnya, selang bertahun-tahun, konsep Persatuan Dayak yang dijabarkan secara politis ke dalam konsep Kebhinekaan, hanya bekerja pada tataran kognitif semata. Sebaliknya, dalam praktek kekuasaan yang ada, justru melakukan tindak penolakan (ketidak-konsistensi), seperti tergambarkan melalui sentralisasi politik dan sosial. Penyelewengan konsepsi berpolitik semacam itu, setidaknya berhasil menghadirkan kondisi yang buruk seperti melahirkan stigma politis atas hak-hak manusia Dayak. Berdasarkan sudut pandang seperti itu, sudah semestinya, yang kita butuhkan sekarang adalah model kekuasaan DAYAK yang cerdas, dalam arti mampu melihat ancaman menjadi potensi.

Konsepsi Dayak dengan segala bentuk keragaman kulturalnya, pada tahapan teoritik, akan membawa masyarakat Dayak pada bentuk kesadaran, bahwa kita merupakan bangsa yang majemuk (plural), bangsa yang kaya ragamnya (diversity) dan sebagai bangsa yang besar (big nations). Dengan kenyataan semacam ini, konklusi yang hendak ditawarkan di sini adalah; bagaimana para pelaku politik Dayak mempunyai tanggung jawab yang memadai- dan dengan maksud mampu mengakomodir segala bentuk kemajemukan sosial. Sifat hetrogenik semacam ini, bilamana tidak dijadikan sebagai landasan kerja politik, menurut hemat penulis akan semakin menjauhkan posisi para politisi negara/aparatus negara dengan massa pendukungnya. Terlebih, apabila kita kaitkan kondisi tersebut dengan tuntutan perubahan ke depan. Secara terang benderang, para politisi telah meramalkan suatu kondisi dunia dengan meningkatnya kesadaran etnositas yang serba tidak tunggal (majemuk) dan penuh konflik jangka pendek. Indikasi kebenaran teoritik tersebut, secara kasatmata sudah kita rasakan saat ini. Persoalannya, model demokrasi yang menekankan kesadaran pluralitas Dayak, harus didasarkan semangat egaliterisme dengan muatan dan prasayarat yang sangat kompleks.

Bilamana model persatuan Dayak yang menekankan pluralitas hendak diterapkan, sepatutnya kita mencermatinya secara lebih kritis lagi. Salah praktek, akibatnya akan mengakibatkan anarkisme kekuasaan dan kemudian dibarengi oleh anarkisme sosial yang cenderung distruktif antar Dayak. Maka dari itu, di tengah bangkitnya kesadaran lokal yang kian hari kian meningkat, sudah sepatutnya beragam piranti organisasi Dayak jauh lebih serius, manakala kita menghendaki geo-politik Dayak hendak dipertahankan. Dengan lain perkataan, apakah kita akan tetap mempertahankan konsepsi politik Dayak dalam bentuk wacana integratif atau kita mengubahnya menjadi bentuk Dayak yang lebih pluralisti-seperti kita memikirkan kembali bentuk negara feredartif. Tanpa kesiapan untuk melakukan perubahan paradigma Dayak secara lebih mendasar, saya mengkhawatirkan cara-cara penanggulangan masalah seperti yang diberlakukan terhadap Madura, akan sangat tidak bermanfaat dalam perspektif Dayak ke depan.

Karenanya, kerumitan akibat luasnya ruang lingkup konflik di antara Dayak, merupakan potensi gangguan kekerasan antar Dayak. Bentuk keragaman dengan konsekuensi menguatnya politik kekerasan, muncul karena adanya berbagai macam alasan, seperti kegagalan lembaga-lembaga politik dan hukum untuk menyediakan perangkat/aturan bagi penyelesaian konflik maupun mengatasi keluhan-keluhan, konsolidasi (penguatan) identitas-identitas komunal dimana kelompok-kelompok bersaing mendapatkan akses untuk atau kendali atas sumber-sumber ekonomi, dan penggunaan kekerasan yang dijatuhkan oleh etnik lain untuk menghasut atau menekan konflik.

Berdasarkan realitas politik seperti itu, paham persatuan Dayak diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap proses demokratisasi diKalbar kedepan. Upaya terus menerus mengetangahkan persamaan hak politik di tingkat sosial yang lebih luas, akan menghubungkan persatuan Dayak dengan demokrasi. Terlebih jika kita melihat sisi keragaman Dayak itu, sebagai modal sosial, maka yang kita lihat bahwa hetrogenitas itu menawarkan jalur-jalur baru yang kelak kemudian hari akan memberi jalan alternatif pembaharuan politik Dayak di Kalimantan Barat. Karena Persatuan Dayak itu adalah sebuah ideologi dan sebuah alat atau wahana untuk meningkatkan derajat manusia Dayak dan kemanusiannya, maka konsep politik harus dilihat dalam perspektif fungsinya bagi kehidupan manusia Dayak. Dasar untuk menempatkan hakekat kemanusiaan, menjadi memiliki relevansi, terlebih melihat kondisi politik Dayak, yang kian hari kian menunjukan tindak persaingan tidak sehat.

Kedepan, politik Dayak membutuhkan pintu baru, sebuah cara untuk mengenali kembali akar sosialnya sendiri. Meskipun begitu, di bawah interpretasi-interpretasi yang penuh bias itu adalah demokrasi dan semangat pembaharuan yang pluralistik merupakan pilihan yang sangatlah sulit bagi kehidupan di tanah air.Langkah untuk mengetahui, meskipun sulit untuk mengatakan, mengapa dan bagaimana demokrasi menjadi jalan yang terjal untuk sebuah prasyarat perubahan, kita dapat kembali memaknai seluruh peristiwa perubahan sebagai bagian yang tidak terpisahkan untuk terus menjadikan masa lalu yang buruk untuk membangun kembali, sekian catatan kegagalan bangsa ini mencari bentuknya yang paling ideal. Bahwa kesadaran, catatan dan harapan yang kini tak ubahnya sulit kita pahami, tetapi setidaknya kesadaran akan perubahan bisa memberikan cukup informasi untuk mengetahui bahwa kekerasan, bahkan kebrutalan politik, bukanlah satu-satunya modal kultural yang kita miliki. Masih terdapat banyak cara, untuk menyusun kembali "puzzle" keragaman Nusantara dalam kerangka Indonesia moderen yang jauh lebih manusiawi.

Namun, semuanya akan benar-benar menjadi kenangan kolektif, bilama kita tidak menyadari perubahan itu adalah keniscayaan sejarah dari rentetan pulau dan kehidupan Dayak dimasa depan. Akhirnya, penulis dan segenap anggota Pergerakan Cendekiawan Dayak (PCD) Kalbar mengucapkan selamat dan sukses atas penyelenggaraan Munas II DAD se-Kalimantan. Viva Dayak.


Sumber: lihat juga


Beasiswa untuk Si Miskin

Friday, 23 September 2011

SALAH satu persoalan pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masih tingginya angka putus sekolah. Berdasar data Badan Penelitian Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan Nasional 2008 di tingkat SMA dan SMK ada sekitar 412,1 ribu siswa yang terpaksa berhenti sekolah. Penyebabnya adalah kemiskinan. Kemiskinan tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat untuk tidak mengenyam pendidikan. Ini, mengingat biaya pendidikan makin tinggi, baik langsung ataupun tidak langsung. Biaya langsung dikategorikan seperti iuran sekolah, pakaian, buku, seragam serta alat tulis.
    Orangtua siswa, pasti banyak mengeluarkan uang untuk biaya pendidikan anaknya. Setelah membelikan perlengkapan seragam sekolah, mereka juga harus memikirkan uang yang akan dikeluarkan setiap semester. Tidak semua orangtua siswa yang bersekolah di SMK SMA memiliki penghasilan yang memadai untuk membiayai anaknya. Namun, demi kepentingan anaknya, mereka nekat mendaftarkan anaknya mewujudkan wajib belajar sembilan tahun. Para orangtua siswa berani menyekolahkan anaknya, karena mereka berharap ada bantuan keringanan dari sekolah bagi yang kurang mampu. Seperti diutarakan Ny Ratih,
mekanisme alokasi jatah tersebut dilakukan dengan tahapan. Dinas Pendidikan Prov menetapkan kuota yang didasarkan data siswa miskin dari kabupaten kota per tahun pelajaran. "Data tersebut berdasar dari dinas pendidikan kota dalam  menentukan jumlah murid di sekolah, jumlah murid dari keluarga kurang mampu, besar iuran madrasah, jatah ibukota ke kabupaten kota, dan indikator lokal lainnya. Sedangkan Dinas Pendidikan Kota mempunyai data itu dari masing-masing sekolah yang menyetor data siswa miskinnya
Adapun yang menjadi acuan sekolah dalam menentukan siswa miskin, yakni siswa berasal dari keluarga kurang mampu, jarak tempat tinggal jauh dari madrasah. "Selain itu, si siswa memiliki lebih dari tiga saudara yang berusia sekolah, serta pertimbangan lain semisal memiliki kelainan fisik, korban musibah berkepanjangan, anak dari korban PHK, dan indikator sejenisnya. Dalam menentukan itu, orangtua siswa perlu menunjukkan bukti surat keterangan tidak mampu dari lurah setempat. "Yang terpenting berdasarkan dari beberapa keterangan di atas
Mengenai prosedur pencairannya, akan dikirim ke rekening sekolah --sesuai jatah-- berdasarkan jumlah siswa miskin dari Dinas Pendidikan Provinsi, baik untuk kabupaten maupun kota. Salah satu sekolah yang menyalurkan beasiswa miskin itu mengaku telah menjalankan sesuai prosedur yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Kota setempat.
Alur Pengurusan Beasiswa Miskin:
- Orangtua siswa bisa mengajukan langsung ke sekolah
- Sekolah meminta beberapa bukti surat keterangan tidak mampu
- Sekolah memproses dan mengumpulkan data
- Sekolah mengirim data anak ke dinas pendidikan
- Disdik mengalokasikan jatah penerima
- Disdik mentransfer dana ke rekening sekolah
- Siswa mendapatkan bantuan beasiswa

Persyaratan dan Pertimbangan yang Diutamakan:
- Siswa berasal dari keluarga kurang mampu
- Jarak tempat tinggal jauh dari sekolah
- Memiliki lebih dari tiga saudara yang berusia sekolah
- Pertimbangan lain; ada kelainan fisik, korban musibah berkepanjangan, anak dari korban PHK, dan 
  indikator sejenisnya.
- Bantuan dicairkan setiap semester